Saturday, February 4, 2017

Bela KH Ma’ruf, Ulama Madura dan Tapal Kuda Jatim Desak Kapolri Tahan Ahok

Mereka juga meminta Kapolri segera menuntaskan polemik terkait dugaan terjadinya penyadapan atas telepon Kiai Ma’ruf, demi meredam gejolak masyarakat.
Bela KH Ma’ruf, Ulama Madura dan Tapal Kuda Jatim Desak Kapolri Tahan Ahok

Massa Aksi Bela Islam III dari Madura di Jakarta, Jumat pagi (02/12/2016).
Ulama Pengasuh Pesantren Madura dan Tapal Kuda Jawa Timur (Jatim) meminta Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian segera menahan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok).
Terkait Sikap Ahok atas KH Ma’ruf, Menag: Mempermalukan Ulama Berisiko Besar
Permintaan itu sehubungan dengan tindakan dinilai tidak beradab yang dilakukan terdakwa penistaan agama, Ahok, dan penasihat hukum (PH)-nya atas Ketua Umum MUI KH Ma’ruf Amin, pada sidang kedelapan kasus Ahok, Selasa (31/01/2017).
Ulama Madura dan Tapal Kuda Jatim meminta agar Ahok segera ditahan, kata mereka, “karena terbukti (Ahok) berulangkali mengulangi pelanggarannya.”
Ribuan Santri, Ulama dan Habaib Datangi Kapolda Jawa Timur Tuntut Ahok Diadili
Dalam salinannya yang diterima hidayatullah.com, surat permintaan itu ditandatangani di Madura, Jumat (03/02/2017), oleh KH M Rofi’ie Baidlowie (Koordinator BASSRA), KH Ali Karrar Shinhaji (Koordinator AUMA), KH Hasan Abd Jalal (Koordinator AUTADA), dan KH Lailurrahman (Koordinator HP3M).
Pada surat yang ditujukan kepada Kapolri melalui Kapolda Jatim itu, Ulama Madura dan Tapal Kuda menyampaikan permintaan itu, “Sekalipun yang bersangkutan (Ahok. Red) telah meminta maaf.”
Umat Islam Madura akan Gelar Aksi Bela Ulama
Selain itu, Ulama Madura dan Tapal Kuda juga meminta Kapolri segera menuntaskan polemik terkait dugaan terjadinya penyadapan atas telepon Kiai Ma’ruf. Hal itu demi meredam gejolak masyarakat.
“Fakta persidangan yang telah dilontarkan oleh terlapor dan tim penasihat hukumnya pada persidangan ke-8 segera di-clear-kan, khususnya terkait dengan penyadapan yang bertentangan dengan peraturan perundang-undangan,” bunyi salah satu poin permintaan mereka.(http://www.hidayatullah.com/)
Read More
Washington - Pemerintahan Presiden AS Donald Trump telah mendapat berbagai kecaman karena menyatakan bahwa ‘bahkan anak kecil Muslim adalah ancaman bagi AS.’
“Berasumsi bahwa hanya karena umur dan gender seseorang maka mereka tidak memberikan ancaman adalah asumsi yang sesat dan salah,” kata Juru Bicara Gedung Putih, Sean Spicer, pada Senin (30/01/2017).
Pernyataan ini datang setelah seorang anak Irak berumur satu tahun bernama Dilbreen yang dikirim ke AS untuk menjalani perawatan setelah menderita luka bakar di kamp pengungsi. Namun, setelah Trump mengeluarkan kebijakan anti-imigran, kedua orangtua Dilbreen tertahan di Irak dan tak dapat mengantar sang anak ke AS.
“Jadi mereka tertahan di Irak,” kata Carrie Schuchardt, yang bekerja di House of Peace, Massachusetts, tempat di mana keluarga Dilbreen akan tinggal. “Anaknya ada di sini… dan harus segera dioperasi.”
Selain itu, pemerintah AS pada awal minggu ini menahan seorang anak lelaki Iran berumur 5 tahun dengan alasan semua Muslim adalah ancaman terlepas dari umur mereka.
Sebuah rekaman memperlihatkan sang ibu yang menangis di Bandara Internasional Dulles, Washington DC, dengan khawatir menunggu anaknya dibebaskan. Setelah beberapa jam, ia akhirnya dilepas dari kantor polisi dan bertemu dengan ibunya.
Sang ibu kemudian menyanyikan lagu ulangtahun dalam Bahasa Farsi dan Inggris dalam rangka memberikan kesan bahwa sang anak telah melewati proses diskriminasi di hari ulangtahunnya.
Sementara itu, pemerintah Iran telah mengecam keputusan “menghina” yang dikeluarkan Trump ini.
Bahkan teman dekat AS, yaitu Inggris, tidak bisa menyembunyikan kekecewaan atas kebijakan anti-imigran Trump. Menlu Inggris Amber Rudd mengatakan kebijakan ini akan digunakan ISIS sebagai “kesempatan menyebarkan propaganda.” (http://liputanislam.com/)
Read More

Ini Jawaban Jokowi Terkait Isu Penyadapan SBY









Jakarta - Presiden Joko Widodo dengan tegas mengatakan dia menyerahkan sepenuhnya proses dan fakta persidangan yang muncul dalam sidang kasus penodaan agama oleh Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama, termasuk isu penyadapan, kepada Pengadilan Negeri Jakarta Utara. Hal tersebut ia katakan setelah  Presiden RI ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono meminta Presiden Jokowi memberi penjelasan soal dugaan dia disadap.

“Itu kan isu pengadilan itu, isunya di pengadilan dan yang bicara itu kan pengacara, pengacaranya Pak Ahok dan Pak Ahok,” kata Jokowi ditemui di Balai Sidang Jakarta usai membuka Konferensi Forum Rektor Indonesia Tahun 2017,  Kamis (02/02/2017).
Presiden Jokowi bahwa  dia tidak ada kaitannya dengan fakta persidangan yang muncul dalam sidang yang diselenggarakan di Gedung Kementerian Pertanian itu.
Kemarin, SBY meminta dugaan penyadapan saat berkomunikasi via telepon bersama Rais Aam PBNU Maruf Amin yang dijadikan bukti oleh kuasa hukum Ahok, diusut oleh aparat hukum.
Selain itu, tim pengacara Ahok mengungkapkan kepemilikan bukti komunikasi antara SBY dan Maruf yang berkaitan dengan keputusan fatwa MUI dalam kaitannya dengan kasus penodaan agama tersebut.
SBY juga meminta para pihak yang memiliki bukti percakapan untuk memberikan bukti kepadanya.
Menanggapi hal tersebut, Presiden Jokowi mengatakan seluruh proses hukum termasuk mengenai bukti adalah domain proses hukum di pengadilan.
“Itu juga isu pengadilan, tanyakan ke sana, tanyakan. Yang berbicara tanyakan, jangan barangnya dibawa ke saya. Yang bicara itu isu pengadilan,” ujar Jokowi.
Sementara itu, Menteri Hukum dan HAM Yasonna Laoly menegaskan pemerintah tidak melakukan penyadapan terhadap SBY.
“Pemerintah kita jamin tidak akan mau melakukan intervensi seperti penyadapan yang dibicarakan masyarakat itu,” kata Yasonna di sela-sela Pertemuan Tingkat Menteri tentang Hukum dan Keamanan antara Indonesia dan Australia yang diselenggarakan di Jakarta, Kamis.
Menurut Menkumham, tuduhan penyadapan yang diungkapkan oleh SBY perlu diklarifikasi oleh tim kuasa hukum Ahok karena wewenang melakukan penyadapan hanya dibenarkan dalam penyelidikan kasus hukum oleh kepolisian, kejaksaan, dan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). (http://liputanislam.com/)
Read More

Jenderal IRGC: Yang Takut Iran Silakan Bersembunyi


Teheran - Wakil Panglima Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) Brigjen Hossein Salami menyerukan kepada negara-negara musuh Iran supaya bersembunyi dalam bunker dan tempat-tempat perlindungan kalau mereka memang merasa takut kepada Iran.




“Jika musuh merasa takut terhadap kekuatan rudal kami maka seharusnya mereka berlindung ke tampat-tempat perlindungan,” katanya kepada wartawan di sela-sela acara mengenang pahlawan Iran dari kota Kashan, Kamis (2/2/2017).
Dia menegaskan negaranya belum dan selamanya tidak akan pernah mengubah pendiriannya hanya lantaran mendapat tekanan dari kekuatan-kekuatan besar dunia, dan karena itu Iran akan terus mengembangkan kekuatan rudalnya dari hari ke hari.
Hubungan Iran dengan AS belakangan ini memanas menyusul pelantikan Donald Trump sebagai presiden Amerika Serikat (AS).  Rabu lalu  pemerintah baru Amerika Serikat (AS) mengeluarkan peringatan resmi kepada Iran dan mengancam akan menempuh langkah tegas terkait ujicoba rudal yang dilakukan Iran belum lama ini.
Salami menyebutkan bahwa jumlah rudal, kapal perang, dan peluncur rudal  Iran terus meningkat dari waktu ke waktu, dan bangsa Iran terus memantau dengan seksama kondisi darat, laut dan udaranya.
Menurutnya, seandainya kekuatan rudal Iran tidak sedemikian hebat dan “mendebarkan jantung AS” maka tidak akan ada kehebohan seperti sekarang.
“Kekuatan besar rudal Iran sekarang termasuk di antara sedikit kekuatan preventif terbesar di dunia,” ungkapnya.
Dia mengingatkan bahwa tanah Iran bukanlah tanah yang dapat dipijak oleh pihak asing untuk tujuan buruk.
“Di sini (Iran) adalah bumi para pejuang dan syuhada,” tegasnya.
Brigjen Salami menjelaskan bahwa sebagai bangsa yang besar, Iran selamanya tidak akan pernah terpengaruh oleh dikte kekuatan asing, konspirasi AS tidak akan dapat menggoyahkan tekad Iran, dan revolusi Islam Iran merupakan kelanjutan dari khittah pemimpin revolusi dan pendiri Republik Islam Iran Imam Khomaini.
Donald Trump, Kamis kemarin, kepada wartawan mengatakan bahwa segala opsi “mengemuka di atas meja” berkenaan dengan reaksi terhadap ujicoba rudal balistik Iran.
Hal ini dia katakan saat menjawab pertanyaan apakah dia membahas opsi militer sehari setelah penasehat keamanan nasionalnya mengeluarkan peringatan resmi terhadap Iran. (http://liputanislam.com/)
Read More

Kisah Mantan Wamen Denny Indrayana Bekerja Sebagai Sopir di Australia

Denny Indrayana Bersama Istri Tercinta Ida Rosyidah dan Anaknya : Varras, dan Varis. (Foto: Varras/istimewa)Denny Indrayana Bersama Istri Tercinta Ida Rosyidah dan Anaknya : Varras, dan Varis. (Foto: Varras/istimewa)
Islamedia – Publik Indonesia sempat dikejutkan dengan informasi bahwa salah seorang mantan Wakil Menteri (Wamen) era Pemerintahan Soesilo Bambang Yudhoyono saat ini menjalani profesi sebagai sopir. Wamen tersebut adalah Denny Indrayana.
Berikut ini penjelasan lengkap langsung dari Denny Indrayana yang dipublikasikan melalui situs kumparan.com, senin, 23 Januari 2017.
Mantan Wamen Nyupir, Why Not?
Berita saya menjadi supir di Melbourne rupanya sedikit menjadi viral di media sosial. Semoga bisa menjadi selingan di tengah kesumpekan demo dan intrik politik yang sedang marak, sekaligus menggelisahkan di tanah air.
Setelah tulisan tersebut naik di salah satu media online, banyak sekali pesan singkat masuk ke hape dan akun medsos saya dan istri. Kebanyakan memberikan apresiasi. Beberapa mengkarifikasi. Tidak percaya, “Apa benar nyupir mas? Rasanya nggak percaya”. Beberapa menanggapi miring.
Wajar. Mustahil satu isu ditanggapi seragam. Perbedaan pandangan adalah keniscayaan. Sebagaimana Indonesia yang beragam suku dan agama adalah sunatullah. Profesor Mahfud, mantan Ketua MK, memberi apresiasi di akun cuitannya, “Sahabatku Denny melakukannya dengan tabah & gagah”.
Rekan Lin Che Wei di akun FB-nya menyampaikan respek. Saya memang sempat berencana bekerja bareng dengannya untuk menjadi Staf Khusus membantu Menteri Sofyan Djalil yang kala itu menjabat Kepala Bappenas. Sayangnya, rencana itu tidak sempat berjalan. Saya keburu harus ke Melbourne. Undangan untuk menjadi Visiting Professor di University of Melbourne (Australia) sebenarnya sudah saya terima sejak awal tahun 2015. Tetapi karena perlu konsentrasi dengan kasus inovasi pembayaran paspor secara online (payment gateway), saya menunda keberangkatan itu sampai awal April 2016. Jadi saya tinggal di Melbourne sebenarnya adalah sebagai Profesor Tamu pada Melbourne Law School dan Faculty Arts, dua fakultas di Universitas Melbourne, yang berkenan memberikan posisi terhormat itu, meski mereka paham betul ada masalah hukum yang sedang menjerat saya di Tanah Air.
Saat ini, Universitas Melbourne kembali memperpanjang posisi Visiting Professor itu paling tidak sampai akhir tahun 2017. Bahkan mereka juga menawarkan saya untuk menjadi pengajar tetap minimal dua tahun ke depan, hingga tahun 2019. Saya sedang mempertimbangkan tawaran itu dan memproses izin kerjanya dari tanah air. Nah, soal menjadi sopir sebenarnya kerja selingan sejak akhir tahun lalu. Meski ketika ditanya beberapa rekan, secara guyon saya menjawab, “full time nyupir, part time nDosen”.
Kebetulan rekan Dodi yang punya usaha travel sedang liburan di Tanah Air, jadi dia butuh sopir pengganti. Lalu, seperti biasa bulan Desember dan Januari, kegiatan akademik di kampus Melbourne University sedang libur. Karena tidak terlalu sibuk, why not? Selain menolong usaha kawan, tambahan rezekinya juga lumayan. Cukuplah untuk menambah kepulan asap dapur.
Meskipun karena pernah menjadi mantan Wakil Menteri, tamu yang saya supiri menjadi berfikir keras untuk ngasih tips. Ada tamu, yang bilang, “Waduh mau ngasih tips, takut nggak pantes”. Padahal, saya ngarep, he-he…
Yah, risiko mantan wamen jadi sopir, tamunya jadi kagetan. Padahal, sayanya mah santai aja. Enjoy dan happy. Tamu yang saya layani beragam. Ada pejabat pemerintahan, anggota DPR, perwira Polri, turis, dan lain-lain. Bagi saya nyupir sama sekali bukan pekerjaan rendahan. Sejak dulu sekolah doktoral di Melbourne Law School pada 2002—2005, saya sudah terbiasa kerja kasual. Dulu saya dan istri memburuh di Pasar Victoria dan membagikan majalah gratis mingguan City Weekly di perempatan lampu murah pusat kota Melbourne. Kalau sedang membagi majalah gratisan itu, saya berdiri di salah satu sudut lampu merah, membagikan majalah kepada pejalan kaki yang hilir mudik.
Karena agak bosen berdiri lebih kurang dua jam, saya membagikan sambil bersenandung. Bukan sembarang lagu. Supaya tetap ceria, saya sengaja memilih lagu dangdut. Iya, dangdut. Sambil sedikit bergoyang nikmat, saya lantunkan lagu-lagu dangdut yang saya hapal. Mumpung para bule yang lewat tidak tahu lagunya, sehingga tidak bisa protes suara sumbang saya yang nadanya kemana-mana. Para bule yang lewat rata-rata terenyum, entah kenapa.
Untungnya belasan tahun yang lalu itu, saya belum jadi Wamen. Kalau tidak, goyang dangdut dan suara fals-cempreng saya itu bisa jadi video, jadi berita dan mem-viral juga.
Soal sikap luwes dan tidak malu bekerja halal apa saja ini adalah salah satu pelajaran hidup yang ditanamkan ayah saya almarhum Acep Hidayat dan ibunda tercinta Titien Sumarni. Sewaktu saya masih di Sekolah Dasar, kami tinggal di kota kecil Banjarbaru, 36 kilometer dari Banjarmasin, ibu kota Provinsi Kalimantan Selatan. Saat itu, ayah saya sedang tugas belajar di Universitas Lambung Mangkurat. Untuk menjaga dapur tetap mengepul, ayah tidak jarang ngojek
Waktu itu tahun 1980-an caranya mudah. Kalau ada orang naik motor pakai topi (belum wajib helm), maka berarti yang bersangkutan adalah tukang ojek. Almarhum ayah juga membeli taksi angkot. Biasanya di waktu senggang, seringkali akhir pekan, saat saya tidak sekolah, ayah saya menyupir angkot dan saya jadi kernetnya. Jadi suara cempreng saya mendangdut di atas, salah satunya hasil latihan teriak tujuan trayek angkot sewaktu saya SD.
Waktu SD juga, saya dilatih orang tua berwirausaha. Pernah saya jualan es mambo. Saya ke sekolah membawa termos pendingin yang sudah diisi es buatan ibu, yang lalu dititipkan di kantin sekolah. Besarnya termos es itu hampir sama dengan tubuh kecil SD saya waktu itu. Bener lho, saya pernah kecil dan kurus, sumpah! Sekarang memang agak berisi dan gemukan.
Almarhum ayah yang meninggal tahun 2013 memang menanamkan sikap legowo dan kuat bertahan hidup, siap dalam kondisi terbatas seperti apapun. Misalnya, suatu ketika beliau berujar, “Lebih baik makan nasi dengan garam ketika bisa makan dengan lauk daging. Karena rasanya akan beda sekali dan jauh lebih nikmat, ketimbang makan nasi dengan garam karena terpaksa, sebab memang tidak ada lauk lain”. Beliau ingin menyiapkan kami anak-anaknya untuk siap bertahan hidup dalam kondisi apapun.
Nasihat itu cukup terpatri dalam di hati saya. Alhamdulillah, Allah mengkaruniakan saya dan keluarga dengan rezeki yang tidak berlimpah, namun juga tidak kekurangan. Kami cukup. Namun kami juga tidak kagetan, nggak gengsian, kalau harus melakukan kerja-kerja sampingan jadi buruh pasar ataupun sopir travel. Apalagi, meskipun berbeda lingkup kerjanya, jadi Wamenkumham dan sopir tetap mempunyai tanggung jawab besar. Menjadi wamen, banyak persoalan Hukum dan HAM yang menantang untuk diselesaikan. Menjadi sopir, nasib dan nyawa penumpang berada di bawah .
Keduanya punya andil tidak kecil, dalam dimensinya masing-masing. Bekerja apapun yang penting kita nikmati sepenuh hati, kerjakan dengan prosesional, penuh tanggung jawab, dan jangan lupa: terus jaga integritas. Yang penting bukan korupsi! Jadi kenapa harus malu? Lalu, kalau saya menulis soal antikorupsi, biasanya ada satu-dua komen, “Ambilin cermin besar aja”. Wajar, karena yang komentar lalu ingat kasus inovasi pembayaran paspor secara online (payment gateway) yang masih saya hadapi.
Pada tulisan kali ini, saya tidak akan menjelaskan soal kasus tersebut. Mungkin lain kali. Tetapi mohon perkenan sidang pembaca untuk mengklik tautan ini. Untuk sedikit lebih memahami detail kasus tersebut. Saya bersyukur beberapa tokoh antikorupsi tetap memberikan dukungan tanpa henti. Selain Profesor Mahfud yang terus menguatkan, dan sempat pula mengunjungi kontrakan saya di Melbourne. Ketua KPK Agus Rahardjo, mantan Wakil Ketua KPK Bambang Widjojanto, Profesor Saldi Isra, Zainal Arifin Moctar (Ketua Pukat Antikorupsi UGM), Adnan Topan Husono (Koordinator ICW) dan rekan Bivitri Susanti (Pengajar Jentera Law School) adalah di antara sedikit tokoh antikorupsi yang berkenan hadir dan menjadi pembahas dalam peluncuran buku saya, “Jangan Bunuh KPK” pada akhir tahun lalu.
Kehadiran tokoh antikorupsi sekaliber mereka, di tengah kasus korupsi yang saya hadapi, tentu adalah merupakan kehormatan dan dukungan yang sangat berarti. Jadi, mantan Wamen nyambi nyupir, why not?
Saya setuju dengan salah satu komentar di FB. Katanya, “saya lebih respek berita mantan Wamen jadi sopir ini, ketimbang beritanya ada mantan pejabat yang ongkang-ongkang tinggal di luar negeri, karena rezekinya yang didapat entah darimana tidak habis-habis tujuh turunan”. Saya bersyukur, rezeki kami cukup, halal, dan bersih dari korupsi. Yang lebih penting lagi, saya bersukur punya keluarga yang juga santai dan enjoy. Kedua anak saya Varis dan Varras tersenyum saja membaca banyak komentar bingung karena mantan wamen nyambi nyupir. Kalau bahasa ABG sekarang, so what gitu lho…
Bagaimana dengan istri saya Ida Rosyidah. Malukah dia? Lain kali bapak-ibu ke Melbourne silakan kontak saya, nanti saya sopiri, dan pertanyaan itu silakan ditanyakan langsung ke sang mantan pacar. Karena Bunda Os biasanya duduk manis di kursi samping supir, menjadi kernet saya. Jadi, mantan wamen nyambi nyupir, why not? Apalagi bisa sambil pacaran dengan kernetnya yang imut dan manis. Keep on fighting for the better Indonesia. (*)
Denny Indrayana
Full-Time Nyupir Part-Time nDosen Guru Besar UGM (Yogyakarta) dan Universitas Melbourne (Australia)
Dipublikasikan pertama di kumparan.com
[islamedia]
Read More

150 Warga Filipina Bersama-Sama Ikrar Syahadat

biarawati filipina masuk islam
Islam terus memperlihatkan perkembanganya di negara Filipina, saat ini banyak dijumpai warga Filipina dengan penuh kerelaan tanpa paksaan memutuskan untuk ikrar syahadat dan menjadi muslim.
Seperti pemandangan mengharukan yang terjadi di Belelleng Isabella Cagayan Valley, seorang biarawati dan lebih 150 warga Filipina mengucapkan kalimat syahadat
Allahu Akbar !! Segala puji dan syukur hanya untuk Allah Subhanahu Wa Ta’ala, 2 hari ini dan siang tadi ibu dari Jing Utleg Pinapin (mualaf mantan biarawati) dan lebih dari 150 orang telah bersyahadat bersama team dakwah kami gabungan dari Mualaf Center Darussalam, Indonesia Street Dawah, Sahabat Dakwah Mualaf.com di Balelleng, Isabella Cagayan Valley, Filiphine” tulis Wakil Direktur Mualaf Centre Indonesia Hanny Kristianto di akun Facebook pribadinya, sabtu(28/1/2017).
Proses syahadat ratusan warga Filipina tersebut dibimbing oleh gabungan beberapa Mubaligh dari Asia Tenggara seperti Ustadz Priyo Sapto Nugroho, Abdulraheem Cruz (putra Abdulrahman Cruz mantan pendeta gereja Iglesia ni Cristo), Ibhrahim Sanggalia (mantan pastor 7th day Adventist) dan Abdul Jalil.[islamedia]
Read More

Lewat GoFundMe, 900 ribu Dollar Terkumpul untuk bangun kembali masjid Texas yang terbakar


Muslim Texas Galang Dana Untuk Pembangunan kembali Masjid Texas yang terbakar
Situs GoFundMe berhasil mengumpulkan lebih dari 900 ribu dolar Amerika Serikat untuk membangun kembali masjid di Texas Selatan, yang hangus terbakar pada akhir pekan lalu.
Seperti dilansir Antara, Senin (31/01) jumlah dana tersebut ternyata melampaui jumlah dana yang dibutuhkan.
Menurut Pusat Islam Victoria dana sumbangan tersebut diterima dari 19 ribu warga dalam dua hari setelah masjid yang terletak di 200 kilometer barat daya Houston tersebut terbakar.
“Kami berterima kasih atas seluruh dukungan yang diberikan,” kata kepala pengurus masjid dilansir laman GoFundMe.
“Dukungan lewat kata-kata, kasih sayang, pelukan, uluran tangan, dan bantuan dana merupakan wujud semangat rakyat Amerika yang sesungguhnya,” katanya.
Kebakaran terjadi beberapa jam setelah Presiden AS Donald Trump menandatangani surat perintah berisi larangan masuk untuk warga tujuh negara berpenduduk mayoritas muslim, Jumat.[Islamedia/ant/YL]
Read More

Dua Buah Puisi Kegelisahan Taufik Ismail Hiasi Pengawalan Sidang Ahok



Sidang lanjutan kasus penistaan agama dengan tersangka Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok terus dikawal umat Islam.
Kali ini, pengawalan persidangan Ahok turut dihadiri Penyair dan sastrawan Taufik Ismail.
Dilansir detikcom, Taufik Ismail tiba di depan Auditorium Kementan sekitar pukul 10.30 WIB. Ia mengenakan jas seragam Persaudaraan Muslimin Indonesia (Parmusi) dan mengenakan peci hitam. Selain Taufik Ismail, Jubir FPI Munarman juga turut hadir.
Pada aksi pengawalan ini, penyair berusia 81 tahun itu membacakan dua buah puisi yang dibuatnya di atas mobil komando.
Puisi pertama yang dibaca Taufik Ismail berjudul ‘Di Laut Mana Tenggelamnya’. Puisi tersebut berisi tentang seseorang yang bertanya tentang beberapa hal. Berikut puisi yang dibacakan Taufik Ismail.
Aku berjalan mencari kejujuran
Tak tahu aku di mana alamatnya
Aku pergi mencari kesederhanaan
Tak tahu aku di mana sembunyinya
Aku bertanya di mana tanggung jawab
Di laut manakah tenggelamnya? 
Aku berjalan mencari ketekunan
Di rimba manakah dia menghilangnya? 
Aku berjalan mencari keikhlasan Rasanya sih ada, tapi di mana, ya? 
Aku berjalan mencari kedamaian Di langit manakah dia melayangnya?
Wahai kejujuran dan kesederhanaan Wahai tanggung jawab dan ketekunan
Wahai keikhlasan dan kedamaian 
Di mana gerangan kini kalian
Zaman ini sangat merindukan kalian zaman ini sangat merindukan kalian.
Puisi kedua yang ia bacakan yakni berjudul ‘Perang Ini Harus Kita Menangkan’. Puisi tersebut mempertanyakan tentang keberadaan orang jujur, berakhlak dan ikhlas di Indonesia. Sekaligus, puisi juga mengajak orang-orang untuk tidak menyerah dalam berjuang.
Masih adakah orang jujur di negeri kita? Adakah? 
Masih ada. Tapi mereka tak bersuara.
Masih adakah orang waras di negeri kita?Adakah? 
Masih ada. Tapi mereka tiada berdaya
Masih adakah orang berakhlak di negeri kita?Adakah? 
Masih ada. Tapi mereka tak berwibawa
Masih adakah orang ikhlas di negeri kita?Adakah?
Masih ada. Tapi mereka dianggap tiada. 
Tapi saudaraku, tak ada cerita putus asa Kita tak akan angkat tangan menyerah kalah 
Karena ibarat perang Perang ini harus kita menangkan. Harus kita menangkan. 
Pekikan takbir menggema saat Taufik membacakan puisi. Sehabis itu, ia meninggalkan lokasi bersama Munarman. [detikcom/islamedia]
Read More